Lebih Smart dari Noordin M Top

J Agustus 2009 | Kategori: Opini

KERJA keras Densus 88 Anti Teror Mabes Polri dalam serangkaian operasi teroris, Jumat (7/8/09) lalu, seolah tidak ada artinya setelah diketahui sosok mayat di dalam rumah Muh Zahri, 70, di Dusun Beji Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung, ternyata bukan Noordin M Top.

Banyak komentar-komentar miring. Bahkan saat Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Sukarna menyatakan “Perang melawan teroris belum berakhir” di selah keterangan pers-nya, Rabu (12/8/09), terdengar teriakan keras dari wartawan; “Jadi kapan Noordin M Top tertangkap, Pak..?”

Siapa sebenarnya Noordin M Top sehingga kita terjebak pada keinginan agar Densus 88 hanya memburu dia. Dalam aksi Bom Bali I, 12 Oktober 2002 lalu, nama Noordin M Top belum setenar sekarang. Waktu itu, pria asal Johor Malaysia ini, baru disebut-sebut sebagai tokoh tamu dalam rapat perencanaan di Solo.

Dalam serangkaian penyelidikan,  saat itu Noordin M Top memang belum apa-apa. Ia baru masuk Indonesia, setelah Pondok Luqmanul Hakim di Johor Malaysia tempatnya mengajar, ditutup Pemerintah Diraja Malaysia. Di pondok ini pun ia berada di bawah bayang-bayang Mukhlas, terpidana mati Bom Bali I. Kalau ia menjadi kepala pondok, semata-mata karena statusnya sebagai warga negara Malaysia.

Benar Noordin M Top pernah belajar membuat bom di Moro pada tahun 2000-an. Tapi kalau cuma bisa membuat bom, masyarakat di beberapa kampung nelayan di Indonesia tidak kalah pintarnya dengan Noordin M Top. Yang membedakan cuma obsesinya. Noordin membuat bom karena terobsesi jihad — yang menurut pemahamannya antara lain harus dilakukan dengan membunuh. Sedangkan masyarakat kampung nelayan kita membuat bom karena obsesi mendapat penghasilan lebih besar.

Noordin juga tidak serta merta mempunyai obsesi itu. Mari menengok ke belakang, ketika Noordin rela melepas statusnya sebagai mahasiswa di Universiti Teknologi Malaysia untuk bergabung ke Pondok Luqmanul Hakim, tahun 1995 lalu, hanya karena mengidolakan Osama bin Laden. Dari mana dia mengenal sosok biyang teroris itu? Jawabnya adalah dari media massa. Media telah memuat aksi-aksi teror bom yang dilakukan jaringan Osama, memuat ketidak-berdayaan aparat-aparat negara menangkap teroris gaek itu, memuat kisah-kisah bagaimana Osama mampu menggoyang dunia meski selalu dalam buruan.

Media tanpa sadar telah menjadi alat propaganda Osama bin Laden hingga membawa Noordin menjadi sel jaringan Osama. Dan ketika media memuat besar-besar peristiwa Bom Bali I telah menelan 202 jiwa – sebagian besar warga asing, Noordin makin menemukan semangatnya untuk merealisasi obsesinya.

Semangat itulah yang mendorong Noordin menelepon Dr Azahari, karena rekannya di pondok Luqmanul Hakim diberitakan besar-besaran di media massa sebagai designer bom yang dipergunakan dalam teror Bom Bali I. Noordin yang saat itu telah tinggal di Bukit Tinggi meminta rekannya itu bergabung untuk merencanakan teror-teror bom serupa.

Semangat itu pula yang mendorong Noordin aktif melakukan kontak-kontak dengan sel-sel jaringan Hambali, salah satu pimpinan JI Asia Tenggara yang sangat dipengaruhi Al Qaedah. Hasilnya antara lain ia mendapat kiriman bom dari Toni Togar. Tersangka Bom Malam Natal 2000 yang melibatkan Hambali dan Imam Samudra ini kebingungan membuang sisa-sisa bom yang tersimpan di rumahnya.

Penangkapan trio bomber Bom Bali I, Mukhlas, Imam Samudra, Amrozi dan puluhan temannya yang lain, oleh Noordin M Top dijadikan bahan membakar semangat sel-sel jaringan Hambali. Gambaran bahwa JI benar-benar sedang diberangus berhasil mencuci otak Asmar Latin Sani untuk bersedia menjadi ‘calon pengantin’ (pelaku bom bunuh diri) bom mobil di JW Marriot, 5 Agustus 2003, menewaskan 12 orang dan 150 orang luka.

Noordin terpuaskan. Bom JW Marriot jilid 1 itu kembali membuat media massa memberitakan namanya besar-besar dan berkepanjangan. Ia makin merasa sebagai pejuang. Nyatanya darah para korban makin membuat dia kesetanan. Teror bom terjadi silih berganti. Bahkan setelah JW Marriot jilid 2, 17 Juli 2009 lalu, Densus 88 menemukan beberapa safe house untuk merencanakan aksi mencederai Hari Kemerdekaan RI dengan menjadikan Presiden SBY sebagai target sasaran. Ia benar-benar bergaya Osama bin Laden: kiriman lancar, hidup aman dalam persembunyian sambil menebar bom di mana-mana, plus nambah istri. Wooww…

Menyalahkan mentah-mentah media massa bukanlah sikap yang bijak. Seluruh elemen masyarakat harus pula menyadari, di era kompetisi sekarang tidaklah mungkin media massa hanya memuat dan menayangkan informasi-informasi dari lembaga resmi. Menuntut insan media massa untuk tidak menggali informasi berbeda, sama dengan memecahkan periuk mereka. Tetapi membiarkan periuk insan media massa tetap utuh dengan menghidangkan ‘santapan beracun’ di atasnya adalah sama dengan membunuh mereka.

Menghidangkan ‘santapan beracun’ di atas periuk insan media massa yang dimaksud dalam konteks ini adalah membiarkan diri kita semua terjebak dalam wacana ketokohan Noordin M Top. Kita telah dikadali. Noordin ibarat Jenderal Zhang Xun semasa Dinasti Tang berkuasa, yang memerintah pasukan kecilnya menurunkan ribuan manusia jerami saat melawan puluhan ribu pasukan lawan pimpinan Jenderal Ling Chao. Sedangkan kita ibarat pasukan Jenderal Ling Chao yang memanahi manusia jerami itu hanya karena rasa pobia mendengar kebesaran nama Jenderal Zhang Xun.

Ironis memang. Penderitaan yang dirasakan pasukan Jenderal Ling Chao pada tahun 756 Masehi silam mendera kita sekarang. Semoga setelah 67 tahun merdeka, bangsa kita menjadi bangsa yang lebih smart dari bangsa Tang, individu kita menjadi individu yang lebih smart dari Noordin M Top.(Penulis adalah mantan wartawan peliput Bom Bali I/dimuat di Harian Surya 25/08/09)

Kirim komentar

Anda harus Log in untuk mengirimkan komentar.