ENTAH kenapa. Tiba-tiba saja saya membayangkan wajah Bolot, pelawak Betawi yang agak-agak tuli itu. Betapa merdeka dia. Hidup dengan hak untuk tidak mendengar pembicaraan orang. Ia juga berhak menanggapi seenaknya apa yang dibicarakan orang lain.
Ketika lawan bicaranya mengumpat; “Sompret lu”, dia malah tersenyum dan dengan bangganya menjawab; “Kalau main terompet gue emang jagonya. Tapi terompet lenong”. Alhasil, “sompret” pun menjadi senjata makan tuan bagi yang mengumpat. Sedangkan bagi Bolot, umpatan itu seperti ajakan berkelakar.
Saya membayangkan lebih jauh lagi. Kali ini berandai-andai jadi Bolot. Ternyata tidak gampang. Untuk mengalihkan kata “Sompret” menjadi “terompet” yang secara verbal terdengar hampir-hampir mirip, tidak bisa spontanitas. Saya perlu berpikir beberapa menit.
Saya telah salah menilai Bolot. Berpura-pura blo-on dan tuli ternyata butuh kecerdasan, latihan dan kesabaran. Butuh cerdas, karena harus mengalihkan pembicaraan orang dalam waktu super kilat. Butuh latihan, karena harus mampu memilih perbendaharaan masalah secara reflek. Butuh sabar, karena ia harus menyembunyikan perasaan ketika diumpat, dianggap goblok, dianggap blo-on dan dianggap tuli.
Karena memerlukan kecerdasan, latihan dan kesabaran, tidak sembarang orang mampu mendalami ilmunya Bolot. Bolot sendiri hanya mau mengamalkan ilmu tulinya ketika dalam panggung lawak. Dan tentu saja ia rela melakukan bukan semata-mata ingin mendapat bayaran, tetapi karena ia juga sadar lawan bicaranya sudah disekenario untuk rela mendapat perlakuan menjengkelkan dari orang yang berpura-pura tuli. Bayangkan jika skenario membolehkan lawan bicara Bolot ikut berpura-pura tuli? Pasti alur cerita jadi nggak jelas jluntrungnya.
Bagaimana jika ilmu pura-pura tuli gaya Bolot diterapkan dalam kehidupan nyata? Ah.., ternyata saya terlambat mengikuti realita ini. Bukankah itu sudah dipertontonkan oleh para pejabat kita, para politisi kita, para praktisi hukum, para selebritis, para tokoh, juga khalayak ramai bahkan oleh orang-orang terdekat kita. Ironisnya, mereka yang berpura-pura tuli dalam kehidupan nyata tidak pernah mampu mengakhiri kepura-puraannya.
Jadi, salut untuk Bolot karena berhasil memilih peran berpura-pura tuli untuk menyenangkan hati khalayak.Semoga ini terjadi dalam kehidupan nyata. (Satrijo Prabowo)




